Uyghur Murni Bukan Karena Agama, Melainkan Tuntutan Kemerdekaan

Mengapa pemerintahan cina Menzalimi Muslim Uyghur.?

Setelah mendapat kecaman dari Negara-negara Islam atas penindasan pemerintah Cina terhadap etnis Uyghur, kini satu persatu informasi kebenaran mulai terungkap. Banyak yang bertanya-tanya apakah perlakuan genosida itu murnni atas perbedaan Agama, atau  hanya atas perbedaan golongan mayoritas bangsa Cina (Etnis Han) yang ada di Xinjiang.

Suku Uyghur merupakan orang-orang Turk campuran dari bangsa Eropa dan Asia Tengah yang bermukim di perbatasan Cina bagian barat, (Jazeer, 2019). Menurut Sejarah, Bangsa Uyghur telah merdeka dan tinggal di Uighuristan lebih dari 2000 tahun lamanya. Tapi Bangsa CIna mengklaim kalau Daerah itu warisan sejarah yang masuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan kekaisaran cina, dan oleh karenanya xinjiang tidak dapat dipisahkan dari wilayah Cina. Orang Uyghur percaya, fakta sejarah menunjukan klaim CIna tidak berdasar dan sengaja menginterpretasikan sejarah secara sepihak, dengan tujuan untuk kepentingan ekspansi dan eksploitasi wilayah yang dimiliki bangsa Uyghur.

Etnis minoritas ini (Uyghur) sejak awal abad ke-20, telah mendeklarasikan kemerdekaan yang berada di kawasan mereka. Xinjiang telah secara resmi ditetapkan sebagai wilayah autonomous didalam Tiongkok, sama seperti tibet dibagian selatannya dan secara sah telah merdeka. Di erah pemerintahan Mao Zedong tahun 1949, ia mengklaim dan memperluas kekuasaan pemerintahan Cina, Provinsi Xinjiang yang sebelumnya telah dideklarasikan kemerdekaannya oleh bangsa Uyghur, kini kembali di klaim bahwa wilayah tersebut (Xinjiang) masuk dalam kekuasaan Beijing (Cina). DIbawah pemerintahan Mao Zedong, Xinjiang menjadi konsentrasi kekuasaannya, agar mampu mendominasi etnis Uyghur. Strategi imigrasi yang diterapkan Mao, mendistribusikan secara besar-besaran etnis Han ke Uyghur sebagai langkah redominasi etnis. Sampai dengan saat ini dari 6% jumlah imigran etnis Han yang ditempatkan di Uyghur, kini populasinya hampir menyamakan penduduk asli Uyghur dengan persentase 40:60%. (Riani, 2018).

kejanggalan pemerintahan Cina yang mengkebiri kebebasan muslim Uyghur, memang perlu disikapi secara manusiawi. meskipun semata-mata perlakuan tersebut bukan karena perbedaan agama, etnis atau golongan, namun jika soal kemanusiaan siapapun berhak membelanya. Meskipun etnis Uyghur bukanlah etnis muslim terbesar di Cina jika di bandingkan dengan etnis muslim Hui. Namun, dari kedua bangsa tersebut yang paling sering mendapatkan intimidasi adalah etnis Muslim Uyghur, sementara etnis muslim Hui justru mendapat perhatian istimewa dari pemerintahan Cina. Ini terlihat saat kebebasan sipil, pembangunan masjid dan kegiatan-kegiatan keagamaan banyak diberikan dukungan dan perlindungan oleh pemerintahan Cina untuk etnis Hui.

Apa Latar Belakang Pemerintah CIna Mengkebiri etnis Uyghur.?

Latar belakang dari histori bangsa Uyghur yang pernah merdeka terus dikumandangkan sampai dengan saat ini. melalui hari-hari besar Muslim, tokoh-tokoh Uyghur gencar mensuarakan kemerdekaan dan kebebasan tersebut. Salah satu kelompok yang paling aktif memperjuangkan kemerdekaan Xinjiang adalah Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM).

Perjuang dan pergerakan dari tokoh-tokoh Uyghur selalu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah Cina, dan gerakannya selalu dituding sebagai gerakan separatis dan ektrimis yang memiliki hubungan erat degan gerakan ekstrim Al-Qaidah, serta gerakan mereka dituntut untuk bertanggungjawab atas serangkaian serangan bom di ruang publik di Xinjiang.

Secara geografis Xinjiang adalah provinsi terbesar di Cina yang menyimpan sumber daya alam tak terhingga besarnya. tidak heran jika beijing memusatkan perhatian pada kawasan yang dilalui jalur sutera itu. sejak beberapa tahun dana investasi bernilai ratusan triliunan rupiah mengalir ke xinjiang. Namun kemakmuran tersebut lebih banyak dinikmati etnis Han ketimbang etnis lokal (Uyghur). Laporan BBC mengungkapkan, akar ketegangan antara bangsa Uyghur dan etnis Han bersumber pada faktor ekonomi dan kultural yang saling mendominasi. perkembangan pesat di Xinjiang turut menjaring kaum pendidikan dari seluruh etnis cina khususnya etnis Han. Akibatnya, etnis Han secara umum mendapat pekerjaan lebih baik dan hidup lebih mapan ketimbang rtnis Uyghur. ketimpangan tersebut memperparah sikap anti cina dikalangan etnis Uyghur.

efek dari perjuangan dan perlawanan tokoh-tokoh muslim Uyghur, menjadikan muslim xinjiang tidak benar-benar bebas dari cengkraman partai komunis. kini Xinjiang menjadi pusat konsentrasi pemerintahan Cina untuk mensterilkan gerakan muslim Uyghur. dilansir dari BBC 2019, baru-baru ini beijing mengeluarkan aturan baru yang melarang warga muslim Uyghur melakukan ibadah atau mengenakan pakaian keagamaan didepan umum. Larangan tersebut anatara lain mengatur bebas usia remaja untuk bisa memasuki masjid menjadi 18 tahun dan kewajiban pemuka agama untuk melaporkan naskah pidatonya sebelum dibacakan di depan umum.

Selain itu upacara pernikahan atau pemakaman yang menggunakan unsur agama islam dipandang dan diidentikan "sebagai gejala gerakan radikalisme agama". Padahal kegiatan dan keberadaan etnis Uyghur di Xinjiang dicatat oleh sejarah sejak berabad-abd silam. pemerintah cina mengklaim kegiatan ibadah muslim Uyghur adalah cikal bakal lahirnya gerakan radikalisme yang akan menghancurkan keutuhan negara Cina. Belum lagi dengan perlakuan genosida (pembunuhan jutaan etnis Uyghur di Kamp-kamp pengungsian).

Atas insiden ini, Mesut Ozil (salah satu pemain Arsenal) memperlihatkan dukungannya melalui cuitannya di media sosial terhadap etnis Uyghur yang kabarnya dipersekusi dan dieksekusi ditempat pengungsian. dalam cuitannya di Instagram ia mengatakan bahwa "Di Cina, Qur'an dibakar, Masjid ditutup, sekolah Islam dan madrasah dilarang, pemuka agama stu persatu dibunuh. terlepas dari semua itu, negara-negara muslim hanya diam, suara mereka tak terdengar".

Hasil cuitan dari Mesut Ozil sontak mendapat perhatian dari Dunia, baik dari negara-negara bagian Barat maupun dari Negara-negara bagian Timur, terkhusus negara-negara Muslim. Indonesia salah satunya melalui akun instagram jokowi, pemerintah Indonesia menyayangkan atas perlakuan yang tidak manusiawi tersebut dan tentu memberikan dukungan moril pada etnis Uyghur. Ormas-ormas islam di Indonesia, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama yang sama mengecam aksi genosida yang dilakukan pemerintahan Cina terhadap etnis muslim Uyghur, serta Negara-negara timur tengah yang mengutuk dan mengecam keras aksi kekejaman pemerintah Cina. Melalui media Cordova, pemerintahan Turki memberikan reaksi keras atas kekejaman yang dilakukan pemerintah CIna terhadap etnis Muslim Uyghur.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

About Author
Popular Articles
May 9, 2019, 9:04 PM - HB Hammad Dyar
Sep 8, 2020, 9:15 AM - Nauman
Dec 6, 2019, 7:46 PM - Muhammad Nabeel